http://indokeperawatan.wordpress.com

A. Definisi

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi kibat atau infeksi bakteri. (www.,medicostre.com,2004)

Penyakit infeksi adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhanorganisme atogenik dalam tubuh.(Brunner d

Suddarth,2001)

Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejalaberupa kantong berisi nanah. ( R,S,Siregar,2004).

B. Penyebab

Menurut R,S, siregar,2004,suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara yang lain :

–          Bakteri masuk kebawah kuit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril

–          Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain

–          Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dantidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses .

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

–          Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi

–          Darah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang

–          Terdapat gangguan sisitem kekebalan.

Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan otot.

Abses yang sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul diwajah.

C. Patofisiologi

Jika bakteri menusup kedalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeks. Sebgian sel mati dan hancur, menigglakan rongga yang berisi jaringan dan se-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalalm melawan infeksi, bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri.sel darah putih kakan mati, sel darah putih yang mati inilah yang memebentuk nanah yang mengisis rongga tersebut.

Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong jaringan pada akhirnya tumbuh di sekliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini merupakan mekanisme tubuh mencefah penyebaran infeksi lebih lanjut jka suat abses pecah di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.(www.medicastre.com.2004).

D. Gejala

Menurut Smeltzer dan Bare,2001, gejala dari abses tergntung kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf.

Gejalanya bisa berupa :

–          nyeri

–          nyeri tekan

–          Teraba hangat

–          Pembengakakan

–          Kemerahan

–          Demam

Suatu absesyanmg terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagi benjolan. Adapun lokasi abses antar lain ketiak, telinga, dan tungkaibawah. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.

Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali  terlebih tumbuh lebih besar. Abses dalam lebih mungkin menyebarkan infeksi keseluruh tubuh.

E. Diagnosa

Abses dikulit atau dibawah kulit.sdanagat mudah dikenali. Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses, biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.

Untuk menetukan ukuran dan lokasi abses dalam bissxa dilkukan pemeriksaan rntgen,USG, CT, Scan, atau MRI.

F. Pengobatan

Suatu abses seringkali membaik tanpa pengobatan, abses akan pecah dengna sendirinya dan mengeluarkan isinya.kadang abses menghilang secara perlahan karena tubuh menghacncurkan. infeksi yang terjadi dan menyerap sisa-sisa infeksi, abses pecah dan bisa meninggalkan benjolan yang keras.

Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya.

Suatu abses tidak memiliki aliran darah,sehingga pemberian antibiotik biasanya sia-sia.

Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hla ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian tubuh lainnya.

NCP (NURSING CARE PLAN)

1.      Nyeri Akut yang berhubungan dengan Agen Injury Biologi

Tujuan : klien mampu mencapai leve yang nyaman setelah dilakukan perawatan

Kriteria hasil:

No Indikator 1 2 3 4 5
1. Melaporkan secara fisik sehat
2. Meloporkan puas dapat mengontrol gejala
3. Mengekspresikan puas dengan fisiknya
4. Mengekspresikan kepuasan dengan berhubungan 

Sosial

5. Mengekspresikan kepuasan secara spiritua
6. Melaporkan puas dengan kemandiriannya
7. Melaporkan puas dengan kontrol nyeri

Keterangan :

1.      Tidak ada

2.      Terbatas

3.      Sedang

4.      Sering

5.      Paling

Intervensi :

a.       Manajemen Nyeri

1.      Kaji nyeri secara komprhensif meliputi lokasi, karakteristik durasi, frekuensi, dan faektor presipitas.

2.      Observasi reaksi non verbal dariketidak nyamanan

3.      Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

4.      Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri, klabrasi dengan dokter jika ada komplai dan tindakan nyeri yang tidak berhenti

5.      Ajarkan teknik non farmaklogi,lbiotedback,leahsasi,distraksi, anagenh admnistrasi

6.      tentukan lokassi,karakteristik, kualias dan derajat nyeri sebelum obat

7.      cek riwayat alergi

8.      monitor vita sign sebeumdan sesudah pemberian analgsik pertama kali

9.      berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat sesuai porgram

10.  Evaluasi efektifitas analgesik tanda dan gejala efek samping

11.  Laksanakan terapi dokter unutk pemberian obat

2.      Hipertermi yang berhubungan dengan proses penyakit

Tujuan : klien mampu mendapat status termoregulasi secar normal setelah dilakukan tindakan keperawatan

Kriteria hasil :

No Indikator 1 2 3 4 5
1. Suhu tubuh DBN
2. Perubahan warna kulit
3. Tidak ada kegelisahan kelelahan
4. Perubahan DBN
5. Tidak ada ditensi pernapasan

DBN : dalam batasz normal

Keterangan :

a.       Tidak sesuai harapan

b.      Kurang sesuai harapan

c.       Sedang sesuai harapan

d.      Cukup sesuai harapn

e.       Sesuai harapan

Intervensi :

  1. Menangani panas

1.      Monitor temperatur tiap 8 jam

2.      Monitor warna kulit dan temperatur tiap 8 jam

3.      Monitor TTV tiap 8 jam

4.      Tingkatkan pemasukan cairan melalui mulut

  1. Pengaturan suhu

1.      Monitor suhu paling sedikit 2 hari sesuai kebutuhan

2.      Monitor temperatur baru sampai stabil

3.      Monitor gejala hipertermi

4.      Monitor TTV

5.      kolaborasi dalam pemberian antipiretik

6.      Atur suhu lingkungan sesuai kebtuhan pasien

7.      Berikan pemasukan nutrisi dan cairan yang adekuat.

3.      Kerusakan Integritas kulit yang berhubungan dengan trauma mekanik

Tujuan : klien mampu mendapatkan integritas kulit dan jaringan yang normal setelah dilakukan perawatan

Kriteria hasil :

Indikator 1 2 3 4 5
1.  Temperatur jaringan DHYD
2.  Sensasi DHYD
3.  Elastisitas DHYD
4.  hidrasi DHYD
5.  Respiasi DHYD
6.  warna DHYD
7.  ketebalan DHYD
8.  keutuhan kulit

Keterangan :

  1. tidak ada
  2. Ringan
  3. Sedang
  4. Agak Berat
  5. Berat

Intrvensi :

a.       Perawatan luka

1.      Catat karakteristik luka

2.      Catat karakteristik drainese

3.      Gunakan saleb kulit atau isi

4.      Pakaikan pakaian yang longgar

5.      Gunakan prinsip steril untuk perawatan luka

6.      Ajarkan keluarga dan pasien prosedur perawatan luka

DAFTAR PUSTAKA

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt J. Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13. jakarta : EGC. 1999.

NANDA, 2005

NIC, 2005

NOC2005

Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2. Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.

http://www.medicastore.Com.2004