Pengertian

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan adalah :

  1. Otot bronkus akan mengerut (terjadi penyempitan)
  2. Selaput lendir bronkus edema
  3. Produksi lendir makin banyak lengket dan kental sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lobang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak nafas. Serangan demikian dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat.

(Ngastiyah, 1997)

Pengertian

Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni saluran napas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan asma. Kelainan yang didapatkan adalah :

  1. Otot bronkus akan mengerut (terjadi penyempitan)
  2. Selaput lendir bronkus edema
  3. Produksi lendir makin banyak lengket dan kental sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lobang bronkus menjadi sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak nafas. Serangan demikian dapat hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat.

(Ngastiyah, 1997)

Asma bronkial merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan napas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak) (Mansjoer, Arif, 2000).

 

B.  Etiologi

Penyebab asma masih belum jelas.  Di duga yang memegang peranan utama ialah reaksi kelebihan dari trakhea dan bronkus (hiperaktivitas bronkus), yang belum jelas diketahui penyebabnya. Diduga karena adanya hambatan dari sebagian sistem adrenergik, kurangnya enzim adenilsiklae dan meningginya tonus sistem parasimpatik, sehingga mudah terjadinya kelebihan tonus parasimpatik kalau ada rangsangan yang menyebabkan terjadiya spasme bronkus. Banyak faktor yang ikut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut di imunologis, infeksi, endokrin, faktor psikologis, oleh karena itu asma disebut penyakit yang multifaktoral (Ngastiyah, 1997).

Satu teori (szentivangi) menganggap asma terutama disebabkan oleh kelainan fungsi reseptor b-adrenergik adenilat siklase, disertai penurunan respon adrenergik (Richard, 1988).

C.  Manifestasi Klinis

Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :

  1. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop
  2. Batuk produktif, sering pada malam hari
  3. Napas atau dada seperti tertekan

Gejalanya seperti paroksimal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari (Mansjoer, Arif : 2000).

Asma ditandai oleh adanya 3 kelainan yakni konstriksi otot bronkos inflamasi mukosa, dan bertambahnya konstriksi jalan nafas. Pada saat terjadi permukaan serangan terlihat mukosa pucat, terdapat edema dan sekresi bertambah. Lumen bronkus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi sel eosinofil dalam sekret di dalam lumen saluran nafas. Jika serangan sering terjadi dan lama atau menahun akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penelaban membran hialin basal, hiperplasia serta elastin, juga hiperplasi dan hipertrofi otot bronkus. Pada serangan yang berat atau pada asma yang menahun terdapat penyumbatan bronkus oleh mukus yang kental (Ngastiyah, 1997).

 

D.  Patofisiologi

Tiga unsur yang ikut serta pada obstruksi jalan udara penderita asma adalah spasme otot polos; edema dan inflamasi membran mukosa jalan udara; dan eksudasi mukus intraluminal, sel-sel radang dan debris selular. Obstruksi menyebabkan pertambahan resistensi jalan udara, yang merendahkan ekspirasi paksa dan kecepatan aliran, penutupan prematur jalan udara, hiperinflasi paru, bertambahnya kerja pernapasan, perubahan sifat elastik dan frekuensi pernapasan. Walaupun obstruksi jalan udara bersifat difus, khas perbedaan 1 bagian dengan bagian lain paru. Ini berakibat perfusi bagian paru yang tidak cukup mendapat ventilasi dan menyebabkan kelainan gas-gas darah, terutama penurunan pO2. Pada permulaan serangan asma akut, pCO2 arteri biasanya menurun akibat hiperventilasi. Dengan memburuknya proses obstruksi, hipoventilasi alveolar menyebabkan kenaikan pCO2 dan bila kemampuan buffer habis, pH darah turun hipertensi pulmonal regangan ventrikel kanan, dan kegagalan pengisian ventrikel kiri mungkin terjadi (Richard, 1988).

F.   Diagnosis

Diagnosis asma berdasarkan :

1.   Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat adanya alergi, serta gejala klinis.

2.   Pemeriksaan fisik

3.   Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral carsman, kristal charcot-leyden).

4.   Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan nafas.

(Mansjoer, Arif, 2000)

 

G.  Komplikasi

1.   Pneumotoraks

2.   Pneumomediastinum dan emfisema subkutis

3.   Atelektasis

4.   Aspergilosis bronko pulmonar alergik

5.   Gagal nafas

6.   Bronkitis

7.   Fraktur iga

(Mansjoer, Arif, 2000)

 

 

 

H.   Pemeriksaan Diagnostik

1.      Uji faal paru. Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat yang digunakan adalah peak flow meter.

2.      Foto toraks. Pada pasien asma yang telah kronik akan terlihat jelas adanya kelainan berupa hiperinvasi atau atelektasis.

3.      Pemeriksaan darah. Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung. Selain itu juga dilakukan uji tuberkulin dan uji kulit dengan menggunakan alergen.

(Ngastiyah, 1997)

 

I.     Penatalaksanaan

1.    Medis

a.    Oksigen

b.    Periksa keadaan gas darah dan pasang IVFD dengan cairan

2.    Teofilin

3.    Kortikosteroid (intravena)

4.    Usaha pengenceran lendier dengan obat mukolitik

5.    Periksa foto torak

6.    Pemeriksaan EKG

 

 

 

J.    Konsep Dasar Keperawatan

1.    Data dasar pengkajian pasien menurut Doenges (1999)

a.    Aktivitas / istirahat

Gejala    :    –    Keletihan, kelelahan, malaise

–    Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas

–    Ketidakmampuan untuk tidur perlu tidur dalam posisi duduk tinggi

–    Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan

Tanda    :    –    Keletihan

–    Gelisah, insomnia

–    Kelemahan umum atau kehilangan massa otot

b.    Sirkulasi

Gejala    :    Pembengkakan pada ektremitas bawah

Tanda    :    –    Peningkatan TD

–    Peningkatan frekuensi jantung atau takikardia, berat, disritmia

–    Distensi vena leher (penyakit berat)

–    Pucat dapat menunjukkan anemia.

c.    Integritas ego

Gejala    :    –    Peningkatan faktor resiko

–    Perubahan pola hidup

Tanda    :    –    Ansietas

–    Ketakutan

–    Peka rangsang

d.    Makan / cairan

Gejala    :    –    Mual atau muntah

–    Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan

Tanda    :    –    Turgor kulit buruk

–    Edema dependen

–    Berkeringat

–    Penurunan BB, penurunan massa otot/lemak subkutan (emifisema)

–    Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali

e.    Higiene

Gejala    :    Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda    :    Kebersihan buruk bau badan

f.     Pernapasan

Gejala    :    Nafas pendek, cuaca atau episode berulangnya sulit napas, rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma)

Tanda    :    Ronchi, mengi sepanjang area paru pada ekspirasi dan kemungkinan selama inspirasi berlanjut sampai penurunan dan tak adanya bunyi napas

g.    Keamanan

Gejala    :    –    Riwayat alergi atau sensitif terhadap zat atau faktor lingkungan

–    Adanya atau berulangnya infeksi

–    Kemerahan atau berkeringat

h.    Seksualitas

Gejala    :    Penurunan libido

i.     Interaksi sosial

Gejala    :    –    Hubungan ketergantungan, kurang sisi pendukung, kegagalan dukungan diri terhadap pasangan atau orang terdekat.

Tanda    :    –    Ketidakmampuan untuk membuat atau mempertahankan suara

–    Karena distress pernapasan, keterbatasan mobilitas fisik kelainan hubungan dengan anggota keluarga lain.

2.    Diagnosa keperawatan menurut (Doengoes, 1999)

a.    Bersihan jalan nafas, tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret

b.    Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai O2 (obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).

c.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia atau mual, muntah.

 

3.    Interaksi dan rasionalisasi (Dongoes : 1999)

a.    Diagnosa I. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret.

Kriteria  hasil : (Carpenito, 1999)

1)    Mencari posisi yang nyaman memudahkan peningkatan pertukaran udara.

2)    Mendemonstrasikan batuk efektif

3)    Menyatakan strategi menurunkan kekentalan sekresi

Menurut Donges : 1999

Intervensi Rasional
–     Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas –     Berapa derajat spasme bronkos terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat atau tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius
–     Kaji atau pantau frekuensi pernafasan –     Takipnea ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/adanya infeksi akut
–     Catat adanya atau derajat dipsnea –     Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di RS.
–     Kaji pasien untuk posisi yang nyaman –     Peninggian kepala pada tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi
–     Dorong atau bantu latihan nafas abdomen atau bibir –     Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea

 

b.    Diagnosa II. Pertukaran gas, kerusakan berhubungan dengan gangguan suplai O2 (obstruksi jalan napas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).

Kriteria  hasil :   menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan

Intervensi Rasional
–     Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan –     Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan kronisnya proses penyakit
–     Tinggikan kepala TT, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas –     Pengiriman O2 dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalna nafas, dipsnea, dan kerja nafas
–     Kaji atau awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa

 

–     Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sektiar bibir atau daun telinga)
–     Dorong mengeluarkan sputum penghisapan bila diindikasikan –     Kental, tebal dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan nafas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif
–     Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara –     Bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi
–     Palpasi fremitus –     Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan ciaran oleh udara terjebak
–     Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung –     Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung

 

c.    Diagnosa III. Nutrisi perubahan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual atau muntah.

Kriteria  hasil :   Menunjukkan peningkatan BB dan peningkatan nafsu makan.

Intervensi Rasional
–     Kaji kebiasaan diet, masukan makan saat ini, catat derajat kesulitan makan, evaluasi berat badan dan ukuran tubuh –     Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksi sputum dan obat.
–     Auskultasi bunyi usus –     Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia
–     Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan. Berikan makan porsi kecil tapi sering –     Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total
–     Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat –     Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas abdomen dan gerakan diafragma dan dapat meningkatkan dipsnea
–     Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin –     Suhu ekstrim dapat mencetuskan atau meningkatkan frekuensi batuk