A. Pengertian

Dalam bahasa Indonesia, AIDS ( Acquired Immune Deficiency Virus Syndrome ) dapat  dialihkatakan sebagai sindrom cacat kekebalan tubuh dapatan.

Acquired   : didapat

Immune     : system kekebalan tubuh

Syndrome  : Kumpulan gejala penyakit

Jadi AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubub oleh virus yang disebut HIV ( Human Immunodeficiency Virus ).

HIV adalah salah satu jenis retrovirus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS.

Adanya defisiensi imun yang berat mengakibatkan seseorang penderita AIDS sangat rentan terhadap berbagai penyakit, baik itu penyakit tidak berbahaya  ( jika menyerang pada orang yang tidak menderita AIDS ) apalagi penyakit berbahaya. Sehingga dalam waktu yang lama bias mengakibatkan kematian.

  1. B. Faktor Penyebab

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyakit AIDS ini disebabkan oleh HIV. Tetapi selain HIV ada virus lain yang juga menyebabkan timbulnya AIDS, yaitu LAV ( Lymphadenopati Asociated Virus ) atau HTLV-III ( Human T-Cell Leukimia / Limpoma Virus Tipe III ). Ada 2 sub tipe HIV yaitu HIV 1 dan  HIV 2 yang termasuk retrovirus dan lenti virus. HIV 1 penyebarannya lebih luas hamper seluruh dunia. Selain itu selubung glikoprotein  pada HIV 1 lebih tebal.

HIV terdapat dalam darah dan cairantubuh seseorang yang menderita AIDS ( cairan sperma, vagina, servik, cairan otak, saliva, air mata, urine, keringat, ASI ). Virus ini bias menular dengan cara berikut :

  • Hubungan seksual baik secara vaginal, anal oral. Secara oral bias terjadi  jika hanya terdapat lesi pada mukosa mulut, missal somatitis.
  • Kontak langsung dengan darah atau produk darah atau jarum suntik
  1. Tranfusi darah atau produk darah yang tercemar HIV
  2. Pemakaian jarum non steril atau pemakaian bersama jarum suntik dan spuit pada pecandu narkotik.
  3. Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan.
  • Secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya
  • Asi dari ibu yang telah positif HIV atau AIDS
  • Penerimaan jaringan atau organ yang telah terinfeksi oleh HIV.
  1. C. Patofisiologis

Infeksi HIV tidak diikuti oleh satu tujuan klinis. Pada pasien dengan infeksi HIV, imunosupresi adalah akibat dari penurunan jumlah T- sel CD4, sehingga terjadi penurunan fungsional ( Graziossi Pantaleo dalam Donna L Wong ). Fungsi sel B yang abnormal terbukti secara dini pada infeksi HIV pada anak. Karena sel T helper mengontrol fungsi dari sel B, anak yang masih kecil dengan infeksi HIV mengalami defisiensi dalam system selular dan system humoral. Imuniglobulin tidak berfungsi hal ini menyebabkan tubuh kehilangan pertahanan tubuh sehingga memudahkan infeksi baktrerial. Anak tersebut juga tidak mampu membentuk anti bodi sesudah imunisasi.


st1:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

A. Manifestasi Klinik

Mayoritas anak dengan infeksi HIV perinatal dilahirkan secara normal tetapi gejala-gejala timbul dalam 18 bulan pertama dengan klasifikasi sebagai berikut :

· Midly Symtomatic ( Categori A )

Terdapat dua atau lebih dari gejala yang muncul :

Ø Pembesaran kelenjar lymphe, liver dan splenomegali

Ø Sinusitis atau otitis media

Ø Recurrent atau peristen infeksi dan saluran nafas

§ Moderately Symtomatic ( Categori B )

ü Candidiasis Orofaring

ü Meningitis

ü Pneumonia

ü Cardiomyopathy

ü Infeksi Cytomegalo virus

ü Hepatitis

ü Herpes simplek

ü Esophagitis

ü Herpes zoster

ü Pulmonary Lymphoid

§ Severely Symtomatic ( kategori C )

ü Septicemia

ü Pneumonia

ü Meningitis

ü Infeksi tulang

ü Abses pada organ dalam

ü Encephalopathy

ü Herpes simpleks lebih dari 1 bulan

ü Lymphoma

ü TBC

ü Candidiasis pada esophagus dan pulmona

 

 

Pada sumber lain diungkapkan bahwa proses perjalanan HIV pada tubuh manusia dibagi dalam 4 stadium :

Stadium I : Infeksi

Dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologis ketika antibody terhadap virus tersebut dari negative berubah menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibody terhadap HIV menjadi positif disebut window period. Lamanya window period antara 1-3 bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai 6 bulan. Umumnya pada penyakit yang disebabkan oleh virus  bila tes antibody menjadi positif berarti didalam tubuh terdapat cukup zat anti body yang dapat melawan virus tersebut. Keseimbangan tersebut berbeda pada infeksi HIV. Karena adanya zat anti di dalam tubuh bukan berarti bahwa tubuh dapat melawan infeksi HIV, tetapi sebaliknya menunjukkan didalam tubuh tersebut terdapat HIV.

 

Stadium II : Asymtomatis / tanpa gejala

Asimtomatik berarti behwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan  ini dapat berlangsung rata-rata selama 5 – 10 tahun. Cairan tubuh penderita yang tampak sehat ini dapat menularkan pada orang lain.

Stadium III : Pembesaran kelenjar limphe

Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limphe secara menetap dan merata ( peristen generalized limphadenopati ). Tidak hanya muncul pada suatu  tempat dan berlangsung lebih dari 1 bulan.

Stadium IV : AIDS

Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit antara lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf dan penyakit infeksi sekunder.

 

Janin atau bayi memiliki resiko 25 – 30 % untuk terinfeksi HIV dari ibu yang mengidap HIV. Adapun  proses yang terjadi hingga janin atau infant bias terinfeksi HIV adalah dengan cara transmisi secara vertical. Transmisi secara vertical merupakan transmisi HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dikandung atau yang dilahirkan melalui transplasenta ( intraurine ) pada waktu lahir ( intra partum )yaitu bayi terpapar darah ibu atau sekrat genetalia yang infeksius atau melaui air susu ibu.

 

B. Diagnostik

Penegakan diagnosa infeksi HIV biasanya menggunakan tes antibody serum. Enzim immunoassays ( ELAs ) adalah yang paling sering digunakan untuk screening HIV dan Western Blot atau immunofluorescent harus dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Hasil test positif HIV pada anti bodi di usia 18 bulan atau lebih tua mengindikasikan terinfeksi HIV. Bayi lahir dari ibu HIV positif  adalah cara penularan pasif lewat antibody maternal. Serum antibody dapat dideteksi pada anak selama 18 bulan sesudah lahir. Test lain dengan culture  HIV, deteksi HIV DNA menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dan deteksi pada spesifik HIV antigen  contohnya test HIV-p24. jika salah satu test positif, diagnosa kedua harus ditegakkanuntuk mengurangi kesalahan diagnosa.

Berdasarkan CDC, kriteruia spesifikuntuk diagnosa AIDS pada anak dengan usia kurang dari 13 tahun harus memenuhi syarat dibawah ini:

ü Adanya virus HIV di peredaran darah atau jaringan.

ü Gejala menyerupai definisi kasus CDC.

Anak umur 13 tahun atau lebih, didiagnosa berdasarkan criteria dewasa.

 

C. Penatalaksanaan (managemen terapi)

Tujuan terapi pada anak dengan infeksi HIV adalah memperlambat pertumbuhan virus , mencegah dan mengatasi infeksi oportunistik, kebutuhan nutrisi dan terapi untuk gejala yang timbul. Beberapa obat digunakan untuk memperlambat infeksi viral. Zidovudine (AZT), dideoxycytidine (ddC) dan didanosine(DDI) sudah dibuktikan untuk digunakan pada pasien anak.

ü Pertahankan personal hygine ( sering mencuci tangan)

ü Hindarkan kontak langsung dengan seseorang yang mempunyai infeksi tenggorokan

ü Tempatkan pasien anak ditempat yang pribadi dan nin infeksi

ü Pertahankan nutrisi yang baik

ü Selalu lakukan standar prosedur pada pasien dengan HIV AIDS.

G. Pengkajian Keperawatan

Riwayat penyakit

Kegagalan perkembangan, diare kronis, infeksi pernafasan, demam, berkeringat di malam hari, kelelahan, kelemahan otot dan sendi, riwayat tranfusi darah, adanya HIV pada orngan tua yang terinfeksi pada pre dan post natal, riwayat pertumbuhan, makanan yang disukai atau dibenci, gaya makan atau kebiasaan, perhatian ornag tua tentang status nutrisi.

Temuan fisik

Adanya lympadenopati, hepatomegali, bacterial sepsis, lesi herpetic, anemia, kandidiasis, ensepaliti, lymphoid interstitial pneumonia, lyphopenia ( khususnya dengan penurunan pada T helper lympocytes, HIV anti body positif, HIV kultur positif, normal atau penurunan immunoglobulin. Pada pemeriksaan fisik dan lab ditemukan infeksi dengan infeksi oprtunistik yang spesifik, status neurologist, fungsi respiratory ( riwayat berhubungan : RR, kesulitan bernafas, warna kulit, ada/tidak batuk, produksi sputum, analisa gas darah, tes fungsi paru, adanya dysneu saat beaktivitas ), kualitas dan kuantitas BAB, nyeri dan distensi abdomen, bising usus, mucus membrane, tes urine spesifik, elektrolit serum, kondisi kulit (ada/tidak robekan atau luka, kekeringan, alergi)

Factor psikososial

Kecemasan tentang diagnosa, etiologi dan prognosis, respon dari keluarga, teman dan masyarakat tentang diagnosa, efek dari diagnosa dan infeksi oportunistik pada kemampuan untuk mengatur pertumbuhan, kebiasaan (bermain, tidur, kenyamanan anak), aktivitas sekolah, support system, , kemampuan untuk memanfaatkan sumber yang tersedia, trategi koping yang dipergunkan pada masa lalu, pemahaman terhadap kebutuhan anak.

Pengetahuan klien dan keluarga

Kaji pengetahuan klien tentang proses penyakit, transmisi, pengetahuan tentang factor resiko, pengobatan, pencegahan, screening test, penerimaan informasi dan sumber yang mendukung, tingkat pengetahuan, kesepian dan keinginan untuk belajar.

 

 

Diagnosa Keperawatan

1. resiko tinggi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh

2. resiko tinggi terjhadap penularan penyakit berhubungan dnegan transmisi agent penularan

3. gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan proses penyakit, kehilangan akibat diare, anoreksia, kandidiasis oral.

4. pertukaran gas tidak efektif berhubungan dengan infeksi pernafasan oportunistik dan penurunan volume tidal sekunder dari pengobatan dan anemia

5. gangguan pola seksualitas berhubungan dengan resiko transmisi penyakit

6. gangguan integritas kulit berhubungan dengan imunosupresi

7. hipertermia berhubungan dengan infeksi HIV, infeksi oportunistik, pengobatan.

8. gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan penyakit neorologik, factor situasional.

9. kerusakan interaksi social berhubungan dengan pembatasan fisik, hospitalisasi, anggapan sosaial tentang HIV.

10. nyeri berhubungan dengan proses penyakit

 

Implementasi

Dx 1 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh, adanya infeksi.

Tujuan : menurunkan resiko infeksi

Criteria hasil :

1. anak-anak tidak berhubungan dengan orang yang terinfeksi atau yang terkontaminasi

2. anak menunjukkan tidak adanya tanda-tanda infeksi

Intervensi

1. gunakan teknik cuci tangan yang baik ( meminimalisasikan penyebaran kuman penyakit )

2. anjurkan pengunjung untuk cuci tangan

3. tempatkan anak diruang non infeksi atau ruangan isolasi ( membatasi penyebaran infeksi dari klien maupun dari luar )

4. batasi kontak dengan orang yang mempunyai infeksi termasuk keluarga, anak lain, teman dan perawat.

5. jelaskan anak sangat rentan terhadap infeksi ( memberi pengertian pada keluarga klien )

6. observasi kesterilan alat ( menurunkan resiko infeksi )

7. beri nutrisi yang baik dan istirahat yang adekuat ( untuk meningkatkan pertahanan tubuh )

8. jelaskan pada keluarga dan anak yang lebih tua tentang pentingnya segera mengubungi petugas kesehatan yang lebih professional jika muncul tanda tanda kesakitan ( tindakan yang tepat  dapat segera diberikan )

9. pemberian imunisasi yang sesuai anjuran ( untuk mencegah infeksi yang spesifik )

10. pemerian antibiotic sesuai aturan.

 

Dx 2 : resiko tinggi penularan berhubungan dengan transmisi agen penularan

Tujuan : tidak menularkan penyakit pada orang lain

Criteria Hasil: orang lain tidak tertular penyakit tersebut

Intervemsi :

1. lakukan tindakan pencegahan universal khususnya isolasi dari cairan tubuh ( untuk mencegah penyebaran virus )

2. perintahkan pada orang lain ( keluarga ) untuk melakukan tindakan pencegahan yang sesuai, benarkan kesalahpahaman informasi  tentang virus  ( berpengaruh terhadap frekuensi kejadian dan hubungannya dengan tindakan pencegahan yang sesuai. )

3. ajarkan tentang metode melindungi anak dan cuci tangan memegang area genital ( untuk mencegah terjadinya penularan infeksi )

4. usahakan untuk menjaga anak kecil dari meletakkan tangan dari benda diare yang terkontaminasi.

5. lakukan pembatasan pada tigkah laku dan kontak dengan anak yang digigit atau siapapun yang tidak bias mengontrol cairan tubuhnya.

6. kaji situasi rumah dan lakukan pengukuran perlindungan sesuai dengan yang dapat dilakukan individu.

 

Dx 3 : gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan proses penyakit akibat diare, kehilangan nafsu makan dan kandidiasis oral.

Tujuan : anak akan mendapatkan makanan yang optimal

Criteria hasil :

Anak dapat mendapatkan yang optimal

Intervensi :

1. diit TKTP dan makanan ringan ( memenuhi kebutuhan tubuh untuk metabolisme dan pertumbuhan )

2. sediakan makan yang disukai ( merangsang nafsu makan )

3. perkuat nutrisi dengan makanan suplemen susu bubuk dan vitamin-vitamin (untuk memaksimalkan kualitas intake)

4. gunakan kreativitas dalam menyediakan makanan untuk anak-anak

5. monitor BB anak dan pertumbuhannya ( rencana pemberian makanan tambahan dapat diimplementasikan jika pertumbuhan berjalan lambat atau ketika BB turun drastis )

6. pemberian obat-obat anti fungal sesuai anjuran ( untuk mengobatai kandidiasis )

 

Dx 4 : kerusakan interaksi social berhubungan dengan pembatasan fisik, hospitalisasi, anggapan social tentang HIV

Tujuan : anak akan berpartisipasi dalam pergaulan dan aktivitas kelompok dalam keluarga.

Criteria hasil :

Anak dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok dan keluarga

Intervensi :

1. Bantu anak dalam mengidentfikasi kekuatan personal ( untuk memfasilitasi koping )

2. pendidikan di sekolah perorangan dan teman sekelas tentang HIV ( mengantisipasi  agar anak tidak terisolasi )

3. mendorong anak untuk berpartisipasi dalam aktifitas dengan anak lain dan keluarga.

4. mendorong anak untuk mempertahankan kontak dengan teman selama hospitalisasi.

 

Dx 5 gangguan pola seksualitas berhubungan dengan resiko transmisi penyakit.

Tujuan : menunjukkan tingka laku seksual yang sehat

Criteria hasil :

1. Remaja menunjukkan idealitas seksual yang positif

2. Remaja tidak menulari individu yang lain

Intervensi :

1. beri pendidikan pada remaja tentang transmisi seksual, resiko infeksi perinatal, bahaya dari pergaulan bebas ( remaja mempunyai informasi yang adekuat untuk mengidentifikasi kenyamanan dan ekspresi seksual yang sehat )

2. mendorong remaja untuk mengutarakan tentang parasaan dan segala yang berhubungan dengan masalah seksual. ( untuk memfasilitasi koping )

 

 

SUMBER :

L. Donna Wong. Nursing Care Of Infants and Childern Fifth Edition

L. Donna Wong. 2004. Pedoman Klinis Kperawatan Pediatrik. Alih Bahasa : Monica Ester, S.Kp. Edisi IV. EGC: Jakarta.

 

 

 

 

 

A. Manifestasi Klinik

Mayoritas anak dengan infeksi HIV perinatal dilahirkan secara normal tetapi gejala-gejala timbul dalam 18 bulan pertama dengan klasifikasi sebagai berikut :

· Midly Symtomatic ( Categori A )

Terdapat dua atau lebih dari gejala yang muncul :

Ø Pembesaran kelenjar lymphe, liver dan splenomegali

Ø Sinusitis atau otitis media

Ø Recurrent atau peristen infeksi dan saluran nafas

§ Moderately Symtomatic ( Categori B )

ü Candidiasis Orofaring

ü Meningitis

ü Pneumonia

ü Cardiomyopathy

ü Infeksi Cytomegalo virus

ü Hepatitis

ü Herpes simplek

ü Esophagitis

ü Herpes zoster

ü Pulmonary Lymphoid

§ Severely Symtomatic ( kategori C )

ü Septicemia

ü Pneumonia

ü Meningitis

ü Infeksi tulang

ü Abses pada organ dalam

ü Encephalopathy

ü Herpes simpleks lebih dari 1 bulan

ü Lymphoma

ü TBC

ü Candidiasis pada esophagus dan pulmona

 

 

Pada sumber lain diungkapkan bahwa proses perjalanan HIV pada tubuh manusia dibagi dalam 4 stadium :

Stadium I : Infeksi

Dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologis ketika antibody terhadap virus tersebut dari negative berubah menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibody terhadap HIV menjadi positif disebut window period. Lamanya window period antara 1-3 bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai 6 bulan. Umumnya pada penyakit yang disebabkan oleh virus bila tes antibody menjadi positif berarti didalam tubuh terdapat cukup zat anti body yang dapat melawan virus tersebut. Keseimbangan tersebut berbeda pada infeksi HIV. Karena adanya zat anti di dalam tubuh bukan berarti bahwa tubuh dapat melawan infeksi HIV, tetapi sebaliknya menunjukkan didalam tubuh tersebut terdapat HIV.

 

Stadium II : Asymtomatis / tanpa gejala

Asimtomatik berarti behwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata selama 5 – 10 tahun. Cairan tubuh penderita yang tampak sehat ini dapat menularkan pada orang lain.

Stadium III : Pembesaran kelenjar limphe

Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limphe secara menetap dan merata ( peristen generalized limphadenopati ). Tidak hanya muncul pada suatu tempat dan berlangsung lebih dari 1 bulan.

Stadium IV : AIDS

Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit antara lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf dan penyakit infeksi sekunder.

 

Janin atau bayi memiliki resiko 25 – 30 % untuk terinfeksi HIV dari ibu yang mengidap HIV. Adapun proses yang terjadi hingga janin atau infant bias terinfeksi HIV adalah dengan cara transmisi secara vertical. Transmisi secara vertical merupakan transmisi HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dikandung atau yang dilahirkan melalui transplasenta ( intraurine ) pada waktu lahir ( intra partum )yaitu bayi terpapar darah ibu atau sekrat genetalia yang infeksius atau melaui air susu ibu.

 

B. Diagnostik

Penegakan diagnosa infeksi HIV biasanya menggunakan tes antibody serum. Enzim immunoassays ( ELAs ) adalah yang paling sering digunakan untuk screening HIV dan Western Blot atau immunofluorescent harus dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Hasil test positif HIV pada anti bodi di usia 18 bulan atau lebih tua mengindikasikan terinfeksi HIV. Bayi lahir dari ibu HIV positif adalah cara penularan pasif lewat antibody maternal. Serum antibody dapat dideteksi pada anak selama 18 bulan sesudah lahir. Test lain dengan culture HIV, deteksi HIV DNA menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dan deteksi pada spesifik HIV antigen contohnya test HIV-p24. jika salah satu test positif, diagnosa kedua harus ditegakkanuntuk mengurangi kesalahan diagnosa.

Berdasarkan CDC, kriteruia spesifikuntuk diagnosa AIDS pada anak dengan usia kurang dari 13 tahun harus memenuhi syarat dibawah ini:

ü Adanya virus HIV di peredaran darah atau jaringan.

ü Gejala menyerupai definisi kasus CDC.

Anak umur 13 tahun atau lebih, didiagnosa berdasarkan criteria dewasa.

 

C. Penatalaksanaan (managemen terapi)

Tujuan terapi pada anak dengan infeksi HIV adalah memperlambat pertumbuhan virus , mencegah dan mengatasi infeksi oportunistik, kebutuhan nutrisi dan terapi untuk gejala yang timbul. Beberapa obat digunakan untuk memperlambat infeksi viral. Zidovudine (AZT), dideoxycytidine (ddC) dan didanosine(DDI) sudah dibuktikan untuk digunakan pada pasien anak.

ü Pertahankan personal hygine ( sering mencuci tangan)

ü Hindarkan kontak langsung dengan seseorang yang mempunyai infeksi tenggorokan

ü Tempatkan pasien anak ditempat yang pribadi dan nin infeksi

ü Pertahankan nutrisi yang baik

ü Selalu lakukan standar prosedur pada pasien dengan HIV AIDS.

G. Pengkajian Keperawatan

Riwayat penyakit

Kegagalan perkembangan, diare kronis, infeksi pernafasan, demam, berkeringat di malam hari, kelelahan, kelemahan otot dan sendi, riwayat tranfusi darah, adanya HIV pada orngan tua yang terinfeksi pada pre dan post natal, riwayat pertumbuhan, makanan yang disukai atau dibenci, gaya makan atau kebiasaan, perhatian ornag tua tentang status nutrisi.

Temuan fisik

Adanya lympadenopati, hepatomegali, bacterial sepsis, lesi herpetic, anemia, kandidiasis, ensepaliti, lymphoid interstitial pneumonia, lyphopenia ( khususnya dengan penurunan pada T helper lympocytes, HIV anti body positif, HIV kultur positif, normal atau penurunan immunoglobulin. Pada pemeriksaan fisik dan lab ditemukan infeksi dengan infeksi oprtunistik yang spesifik, status neurologist, fungsi respiratory ( riwayat berhubungan : RR, kesulitan bernafas, warna kulit, ada/tidak batuk, produksi sputum, analisa gas darah, tes fungsi paru, adanya dysneu saat beaktivitas ), kualitas dan kuantitas BAB, nyeri dan distensi abdomen, bising usus, mucus membrane, tes urine spesifik, elektrolit serum, kondisi kulit (ada/tidak robekan atau luka, kekeringan, alergi)

Factor psikososial

Kecemasan tentang diagnosa, etiologi dan prognosis, respon dari keluarga, teman dan masyarakat tentang diagnosa, efek dari diagnosa dan infeksi oportunistik pada kemampuan untuk mengatur pertumbuhan, kebiasaan (bermain, tidur, kenyamanan anak), aktivitas sekolah, support system, , kemampuan untuk memanfaatkan sumber yang tersedia, trategi koping yang dipergunkan pada masa lalu, pemahaman terhadap kebutuhan anak.

Pengetahuan klien dan keluarga

Kaji pengetahuan klien tentang proses penyakit, transmisi, pengetahuan tentang factor resiko, pengobatan, pencegahan, screening test, penerimaan informasi dan sumber yang mendukung, tingkat pengetahuan, kesepian dan keinginan untuk belajar.

 

 

Diagnosa Keperawatan

1. resiko tinggi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh

2. resiko tinggi terjhadap penularan penyakit berhubungan dnegan transmisi agent penularan

3. gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan proses penyakit, kehilangan akibat diare, anoreksia, kandidiasis oral.

4. pertukaran gas tidak efektif berhubungan dengan infeksi pernafasan oportunistik dan penurunan volume tidal sekunder dari pengobatan dan anemia

5. gangguan pola seksualitas berhubungan dengan resiko transmisi penyakit

6. gangguan integritas kulit berhubungan dengan imunosupresi

7. hipertermia berhubungan dengan infeksi HIV, infeksi oportunistik, pengobatan.

8. gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan penyakit neorologik, factor situasional.

9. kerusakan interaksi social berhubungan dengan pembatasan fisik, hospitalisasi, anggapan sosaial tentang HIV.

10. nyeri berhubungan dengan proses penyakit

 

Implementasi

Dx 1 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh, adanya infeksi.

Tujuan : menurunkan resiko infeksi

Criteria hasil :

1. anak-anak tidak berhubungan dengan orang yang terinfeksi atau yang terkontaminasi

2. anak menunjukkan tidak adanya tanda-tanda infeksi

Intervensi

1. gunakan teknik cuci tangan yang baik ( meminimalisasikan penyebaran kuman penyakit )

2. anjurkan pengunjung untuk cuci tangan

3. tempatkan anak diruang non infeksi atau ruangan isolasi ( membatasi penyebaran infeksi dari klien maupun dari luar )

4. batasi kontak dengan orang yang mempunyai infeksi termasuk keluarga, anak lain, teman dan perawat.

5. jelaskan anak sangat rentan terhadap infeksi ( memberi pengertian pada keluarga klien )

6. observasi kesterilan alat ( menurunkan resiko infeksi )

7. beri nutrisi yang baik dan istirahat yang adekuat ( untuk meningkatkan pertahanan tubuh )

8. jelaskan pada keluarga dan anak yang lebih tua tentang pentingnya segera mengubungi petugas kesehatan yang lebih professional jika muncul tanda tanda kesakitan ( tindakan yang tepat dapat segera diberikan )

9. pemberian imunisasi yang sesuai anjuran ( untuk mencegah infeksi yang spesifik )

10. pemerian antibiotic sesuai aturan.

 

Dx 2 : resiko tinggi penularan berhubungan dengan transmisi agen penularan

Tujuan : tidak menularkan penyakit pada orang lain

Criteria Hasil: orang lain tidak tertular penyakit tersebut

Intervemsi :

1. lakukan tindakan pencegahan universal khususnya isolasi dari cairan tubuh ( untuk mencegah penyebaran virus )

2. perintahkan pada orang lain ( keluarga ) untuk melakukan tindakan pencegahan yang sesuai, benarkan kesalahpahaman informasi tentang virus ( berpengaruh terhadap frekuensi kejadian dan hubungannya dengan tindakan pencegahan yang sesuai. )

3. ajarkan tentang metode melindungi anak dan cuci tangan memegang area genital ( untuk mencegah terjadinya penularan infeksi )

4. usahakan untuk menjaga anak kecil dari meletakkan tangan dari benda diare yang terkontaminasi.

5. lakukan pembatasan pada tigkah laku dan kontak dengan anak yang digigit atau siapapun yang tidak bias mengontrol cairan tubuhnya.

6. kaji situasi rumah dan lakukan pengukuran perlindungan sesuai dengan yang dapat dilakukan individu.

 

Dx 3 : gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan proses penyakit akibat diare, kehilangan nafsu makan dan kandidiasis oral.

Tujuan : anak akan mendapatkan makanan yang optimal

Criteria hasil :

Anak dapat mendapatkan yang optimal

Intervensi :

1. diit TKTP dan makanan ringan ( memenuhi kebutuhan tubuh untuk metabolisme dan pertumbuhan )

2. sediakan makan yang disukai ( merangsang nafsu makan )

3. perkuat nutrisi dengan makanan suplemen susu bubuk dan vitamin-vitamin (untuk memaksimalkan kualitas intake)

4. gunakan kreativitas dalam menyediakan makanan untuk anak-anak

5. monitor BB anak dan pertumbuhannya ( rencana pemberian makanan tambahan dapat diimplementasikan jika pertumbuhan berjalan lambat atau ketika BB turun drastis )

6. pemberian obat-obat anti fungal sesuai anjuran ( untuk mengobatai kandidiasis )

 

Dx 4 : kerusakan interaksi social berhubungan dengan pembatasan fisik, hospitalisasi, anggapan social tentang HIV

Tujuan : anak akan berpartisipasi dalam pergaulan dan aktivitas kelompok dalam keluarga.

Criteria hasil :

Anak dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok dan keluarga

Intervensi :

1. Bantu anak dalam mengidentfikasi kekuatan personal ( untuk memfasilitasi koping )

2. pendidikan di sekolah perorangan dan teman sekelas tentang HIV ( mengantisipasi agar anak tidak terisolasi )

3. mendorong anak untuk berpartisipasi dalam aktifitas dengan anak lain dan keluarga.

4. mendorong anak untuk mempertahankan kontak dengan teman selama hospitalisasi.

 

Dx 5 gangguan pola seksualitas berhubungan dengan resiko transmisi penyakit.

Tujuan : menunjukkan tingka laku seksual yang sehat

Criteria hasil :

1. Remaja menunjukkan idealitas seksual yang positif

2. Remaja tidak menulari individu yang lain

Intervensi :

1. beri pendidikan pada remaja tentang transmisi seksual, resiko infeksi perinatal, bahaya dari pergaulan bebas ( remaja mempunyai informasi yang adekuat untuk mengidentifikasi kenyamanan dan ekspresi seksual yang sehat )

2. mendorong remaja untuk mengutarakan tentang parasaan dan segala yang berhubungan dengan masalah seksual. ( untuk memfasilitasi koping )

 

 

SUMBER :

L. Donna Wong. Nursing Care Of Infants and Childern Fifth Edition

L. Donna Wong. 2004. Pedoman Klinis Kperawatan Pediatrik. Alih Bahasa : Monica Ester, S.Kp. Edisi IV. EGC: Jakarta.