Sumber : Oleh: Adhes Satria
(Sumber: Sabili No. 13 TH. XVI 15 Januari 2009 / 18 Muharram 1430, hal 114-121 [Edisi Khusus “The Great Muslim Traveler”])

Laksamana Cheng Ho telah melampaui para pengembara Barat sekaliber Christopher Columbus dan Vasco da Gama. la mengemban misi dakwahnya hingga 30 negara dengan cara yang simpatik dan membawa pesan perdamaian.

Laksamana Cheng Ho punya banyak nama; Zheng He, The Ho, Sam Po (Sam Bao ), Sam Po Kong (San Bao Gong), Sam Po Taijin (San Bab Da­ ren), Sam Po Toa Lang, dan Sam Po Tai Kam (San Bao Taijian). Adapun nama aslinya adalah Ma He.

Nama-nama itu sangat popular di kalangan orang-orang Tionghoa Asia Tenggara, khususnya generasi tua. Namun, pengetahuan mereka akan sosok dan peran Cheng Ho lebih banyak dida­sarkan pada legenda atau dongeng. Cheng Ho sendiri adalah sebuah nama yang diberikan oleh Ming Cheng Tzu atau yang lebih dikenal dengan Kaisar Yong Le (Kaisar Zhu Oi), kaisar ke-23 Dinasti Ming yang berkuasa di Tiongkok dari 1403­-1424. Jalinan persahabatannya dengan sang kaisar menghantarkan kepadanya anugerah jabatan tinggi dan nama keluarga baru, Cheng. Maka disebutlah dengan nama Cheng Ho.

Menurut sejarah resmi Dinasti Ming (Mingsi), Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, wilayah yang sudah lama dihuni oleh pemeluk Islam. la dilahirkan dari keluarga miskin etnis Hui di Yunnan. Hui adalah komunitas muslim Cina berdasarkan campuran Mongol-Turki. Ayahnya bernama Ma Hazhi (Haji Ma). Ibunya bermarga Wen. Yang menarik, ahli sejarah bernama Prof Haji Lie Shishou, Cheng Ho disebut-sebut keturunan ke-37 Nabi Muhammad saw. Dikatakan, nenek moyang Cheng Ho yang ke-11 adalah utusan duta besar negeri Bukhara yang bernama Sayyidina Syafii (cucu ke-26 dari Nabi Muhammad saw).

Pada waktu Cheng Ho berusia 12 tahun, Provinsi Yunnan direbut oleh tentara Dinasti Ming menggan­tikan Dinasti Yuan. Saat itu Cheng Ho dan sejumlah anak muda lainnya ditawan dan dikebiri oleh tentara Ming. Cheng Ho dibawa ke Nanjing sebagai kasim atau pelayan intern di istana. Se­jak berbakti kepada pangeran Zhu Di, putera ke-4 Kaisar Zhu Yuanzhang (kaisar per­tama Dinasti Ming), Cheng Ho meman­ faatkan segala fasilitas dengan banyak membaca dan ikut bertempur.

Berkat keberanian dan kecerdasan Cheng Ho yang turut andil mengguling­kan Kaisar Zhu Yunwen membuat Kaisar Zhu Di kagum padanya. Sejak itu dianugerahilah nama marga Cheng kepada Ma He (nama asli Cheng Ho). Diangkatnya sebagai kepala kasim intern di Istana, Cheng Ho bertugas membangun istana, menyediakan alat-alat istana, mengurus gudang es, dan lain-lain.

Pada awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di memerintahkan Cheng Ho untuk melakukan pelayaran-pelayaran (ekspedisi laut) ke Samudera Barat dalam rangka menjalin persahabatan dan memelihara perdamaian antara Tiongkok dengan negara-negara asing. Cheng Ho pun diangkat sebagai laksamana, komandan tertinggi yang membawahi abdi dalem di dinas rumah tangga istana.

Dalam ekspedisinya, Cheng Ho didampingi oleh wakil dan dan sekretarisnya, di antaranya: Laksama­na Muda Heo Shien (Husain), Ma Huan, dan Fei Shin (Faisal). Selain Ma Hu­ an yang mahir berbahasa Arab, Cheng Ho juga mengikut-sertakan Hassan, seorang imam dari bekas Ibukota Sin An (Changan), yang bertindak sebagai juru bahasa Arab. Dalam “politik diplomasi laut” itu Kaisar Zhu Di menggelar armada berjumlah 62 kapal besar dan 225 junk (kapal berukuran lebih kecil) serta 27.550 perwira dan prajurit, termasuk ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, tabib, juru tulis, dan intelektual agama.

Cheng Ho mengadakan ekspedisi laut sebanyak tujuh kali sejak 1405-1433 (tahun wafatnya Cheng Ho). Telah lebih dari 37 negara telah dikunjunginya dalam pelayarannya itu. Dilihat dari kuantitas dan waktu, ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para pengembara asal Eropa: Christopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Francis Drake, dan lain-lain

Penjelajah Pertama
Gavin Menzies, mantan kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris menulis buku kontroversial berjudul: 1421: The Year China Discovered America. Dalam bukunya, Menzies menyebutkan bahwa armada-armada Cheng Ho mendarat di Benua Amerika dan mengelilingi dunia jauh lebih awal ketimbang Ferdinand Magellan atau Christopher Columbus.

Atas pendapat tersebut, beberapa sejarawan masih mempertanyakan ihwal apakah armada-armada Cheng Ho pernah mengunjungi Amerika bagian utara sebelum orang-orang Barat? Apakah armada Cheng Ho merupakan ekspedisi pertama yang mengelilingi dunia?

Menurut pengamat sejarah dari Universitas Indonesia (UI), Leirissa, bukti-bukti yang dikumpulkan Menzies belum meyakinkan. Dengan kata lain, peta-peta Barat yang dibuat berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber Tiongkok zaman Cheng Ho itu perlu ditelaah lebih mendalam. “Tak satu pun peta China yang dapat ditemukan hingga kini, kecuali peta-peta Kangnido dan Mao Kun yang tidak mencakup informasi tentang benua Amerika,” kata Leirissa.

Berikut tujuh ekspedisi pelayaran (muhibah) yang dilakukan Cheng Ho ke wilayah luar perbatasan Tiongkok: Eks­pedisi I (1405-1407) berangkat dari Ibu­kota Nanjing ke Calicut (Kozhikode di negara bagian Kerala, India Selatan), juga mengunjungi Champa, Jawa Sriwijaya, serta beberapa tempat di Sumatera dan Srilangka (Ceylon). Ekspedisi II (1407­ 1409) berlayar ke India untuk mengangkat raja baru di Calicut.

Ekspedisi III (1409-1411) menuju Champa, Temasek, Malaka, Sumatera (Samudra dan Tamiang), Calicut, dan Ceylon (Srilangka). Ekspedisi IV (1413-1415) adalah pelayaran ke Champa, Jawa, Sumatera, Malaya. Maladewa, Srilangka, India hingga Hormuz.

Ekspedisi V (1417-1419) menuju Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aden, Mogadishu, Brawa, Malindi di pantai Barat Afrika. Ekspedisi VI (1421-1422) menuju Afrika, juga melalui Malaka, Aru, Samudera, Lambri, Coimbattore, Kayal, Ceylon, Hormuz, Dhufar, La-sa, Aden, Mogadishu, Brafa, Thailand. Terakhir, ekspedisi VII (1431-1433) mengunjungi 20 negara, di antaranya menuju Vietnam bagian selatan, Surabaya, Palembang, Malaka, Samudra, Ceylon, Calicut, Afrika, dan Jeddah. Setiap pelayaran armada itu memakan waktu satu hingga tiga tahun. Meski telah keliling dunia, Cheng Ho tidak pemah berhasil mencapai Makkah.

Ketujuh pelayaran di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho bisa dipastikan merupakan perjalanan sebuah di­plomasi kebudayaan. Cheng Ho menyebarluaskan kebesaran kekuasaan Tiongkok dan keluhuran kebudayaan Tionghoa tanpa harus menggunakan jalan kekerasan.

Di negeri asalnya, daratan Tiongkok, Cheng Ho ditokohkan sebagai simbol diplomasi damai. Namun, sebagian sejarawan Barat masih ada yang menganggap Cheng Ho sebagai figur “neokolonialis dan imperialis”. Pelayaran Cheng Ho dianggap penuh dengan aspek kekerasan dan bertujuan sarna seperti Barat, yaitu menjajah Asia Tenggara.

Berbeda dengan sejarawan Asia yang mengatakan Cheng Ho bukan neokolonialis, karena selama berlayar tidak pemah menduduki sejengkal pun tanah orang, tidak punya koloni, dan juga tidak mengeruk kekayaan negeri lain untuk dibawa pulang ke Tiongkok. Di bawah pimpinan Cheng Ho, ada tujuh pelayaran yang dilatarbelakangi oleh ambisi Dinasti Ming untuk menunjukkan keperkasaan rniliter, keagungan budaya Tiongkok, dan keinginan memulihkan kembali hubungan kekaisaran Tiongkok dengan negara-negara pembayar upeti di wilayah selatan yang sempat terputus menjelang runtuhnya Dinasti Yuan.

Kekaisaran Ming tidak menjajah atau menempatkan tentara serta mengeksploitasi sumber daya alam wilayah-wilayah tersebut. Cheng Ho sengaja memamerkan kekuatan militer dan memperkuat hegemoni Kekaisaran Tiongkok sambil mene­barkan keluhuran kebudayaan Tiongkok dengan jalan damai, walaupun tidak segan menggunakan jalan kekerasan sebagaimana pernah dilakukannya ketika menangkap Chen Zuyi di Palembang atau saat menawan Raja Ceylon.

Salah satu tujuan pelayaran Cheng Ho ke selatan adalah untuk melacak keberadaan pemberontak bernama Chen Zuyi yang mendapat cap “bandit” atau bajak laut. Karena terdesak oleh pergerakan tentara Ming, dia terpaksa menyingkir ke Palembang.

Yang jelas, Cheng Ho bisa saja meng­gunakan kekuatan untuk memberlakukan sistem kolonialisme dan imperialisme di wilayah Laut Selatan. Akan tetapi hal itu tidak ia lakukan. Pelayaran Cheng Ho, ibarat “misi diplomasi kebu­dayaan”. Itu dibuktikan oleh berbagai petilasan di Nusantara yang memperlihatkan adanya percampuran bu­daya lokal, Islam, dan Tiongkok.

Adanya hubungan Dinasti Ming dengan Asia Tenggara, khususnya Kerajaan Malaka, karena ketika itu terjadi kevakuman kuasa politik di kawasan Asia Tenggara dan Lautan Pasifik pada awal abad ke-15. Kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit yang sempat berjaya di kawasan itu sudah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Pengaruh mereka mulai mere­dup dan hilang. Begitu pula kekuasaan Arab di Timur Tengah. Pada periode itulah muncul pengaruh Parameswara dari Kerajaan Malaka dan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok.

Lenyapnya kekuatan politik kera­jaan-kerajaan besar di Nusantara mengakibatkan ketentraman dan keamanan di seluruh lautan Nusantara menjadi terganggu. Perompak dari daratan Cina, Jepang, India, dan terutama dari Nusantara sendiri, leluasa menjalankan aksi. Mereka nyaris menguasai seluruh pelosok Nusantara. Merebaknya aksi-aksi bajak laut tentu sangat mengganggu arus perdagangan di rantau, terutama hubungan dagang antara China dan dunia Arab serta Eropa. Dengan latar belakang itulah Kaisar Zhu Di mengutus Laksamana Cheng Ho untuk mengarungi Lautan Barat sebanyak tujuh kali sejak 1405 sampai 1433. (Gavin Menzies mengatakan dimulai sejak 1403).

Ada beberapa tujuan Kaisar Zhu Di memercayakan Cheng Ho untuk melakukan tujuh pelayaran ke sejumlah belahan dunia. Tujuan terpentingnya adalah, Kaisar Zhu Di menggunakan armada-armada Cheng Ho untuk menjalin kembali silaturahim negara-negara di Nusantara, Arab, dan Afrika bagian timur. Hubungan antara mereka dan Cina sempat terhenti akibat serangan dan pendudukan tentara Mongol.

Tujuan kedua, untuk membuka kembali perdagangan kerajaan yang sempat terputus. Seperti diketahui, Kaisar Zhu Yuanzhang pernah melarang semua aktivitas perdagangan antarabangsa sejak Dinasti Ming berdiri. Itulah sebabnya Kaisar Zhu Di mencoba memecahkan masalah dengan melanjutkan perdagangan luar negeri.

Tujuan lainnya adalah untuk melakukan penelitian tentang Lautan Barat. Sebagaimana diketahui, armada Cheng Ho mengikutsertakan banyak ahli pembuat peta (kartografer), peneliti kelautan (oseanografer), ahli perbintangan (astr­olog), peneliti budaya (antropolog dan etnolog), ahli ilmu bahasa (linguis), ahli diplomasi, ahli kependudukan (demo­graf), ahli biologi, dan pendakwah agama Islam. Di antara pembantu Cheng Ho terdapat banyak imam dan orang Muslim mahir berbahas Arab, Persia, dan Melayu.

Interprestasi lain oleh kalangan sejarawan ihwal pelayaran armada-armada Cheng Ho sebetulnya merupakan usaha Kaisar Ming untuk menantang Tamerlan dengan mencari sekutu di Asia Selatan, khususnya India. Seperti diketahui TamerIan atau yang lebih dikenal Timur Leng berhasrat untuk membangun kembali kejayaan bangsa Tartar semasa Genghis Khan.

Islamisasi di Jawa
Belakangan; sejarawan mengaitkan fakta bahwa pelayaran armada-armada Cheng Ho berhubungan erat dengan agama yang dianut Cheng Ho. Pelayaran tersebut digambarkan sebagai misi muhibah seorang penganut Muslim shalih ke masyarakat dan negara-negara Islam yang ketika itu sudah berkembang di Nusantara, seperti di Lambri, Samudra Pas ai, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan, Cheng Ho sebagai tokoh sejarah memiliki peran besar dalam Islarnisasi di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Ada argumentasi menarik terkait faktor-faktor Tionghoa dalam Islamisasi Asia Tenggara. Selama ini kita hanya mengenal dua arus Islamisasi Asia Tenggara, yakni arus dari Timur Tengah dan arus dari India, khususnya Gujarat. Kemunculan teori arus Tionghoa dalam Islamisasi di Indonesia tentunya akan memperkaya khazanah kesejarahan itu sendiri.

Pelayaran Cheng Ho sebanyak tujuh kali ke wilayah selatan tentunya memiliki pengaruh cukup besar. Di Jawa misalnya, terjadi apa yang disebut “Sino Javanese Muslim Cultures” yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Oemak, Jepara, Lasem sampai Gresik, dan Surabaya. Perpaduan kultur Cina-Jawa itu merupakan akibat dari perjumpaan Cheng Ho dengan masyarakat Jawa. Hal itu bisa dibuktikan, tidak hanya dalam berbagai bangunan peribadatan Islam yang menunjukkan adanya unsur Jawa, Islam, dan Cina, tetapi juga berbagai seni, sastra (batik, ukir), dan unsur kebudayaan lain.

Prof. Hembing Wijayakusuma, peneliti masalah Cheng Ho, mencatat 10 situs bersejarah yang tersebar di Indonesia yang menunjukkan adanya percampuran budaya loka!, Islam, dan budaya Tiongkok. Harus diakui, bangsa Tionghoalah, dalam hal ini peran Cheng Ho, yang sebetulnya merniliki peran penting dalam Islamisasi di Jawa.

Pada 1425-1430 M, saat Kekaisaran Ming menghentikan semua pelayaran ke negeri seberang untuk sementara waktu, Cheng Ho tetap tinggal di Nanjing dengan pangkat kehormatan “Penjaga Kota Nanjing”. Apabila tidak berlayar, Cheng Ho tinggal di Nanking (Nanjing) dan mengawasi segala persiapan untuk pelayaran berikutnya. Oleh sebab itu, dalam masa 29 tahun dari pelayaran pertama sam­pai pelayaran ketujuh, dia lebih sering berada di atas geladak kapal daripada tinggal di rumah. Oia meninggal dunia di kota itu pada usia 64 tahun, tidak lama setelah kembali dari pelayaran terakhir.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Cheng Ho sebenarnya meninggal di sekitar wilayah Calicut, India, di Samudera Hindia pada pelayaran terakhir sesuai kepercayaan Islam, sedangkan yang dikuburkan di Nanjing adalah pakaian kebesarannya.

Armada terakhir Cheng Ho kembali ke Tiongkok pada Juli 1433. Sebuah makam dibangun untuk menghormati Cheng Ho di Bukit Niu Shou Shan dekat Nanjing. Wafatnya Cheng Ho juga menandakan akhir kejayaan maritim Tiongkok. Namun nama besar Cheng Ho telah tersebar ke seluruh Asia Tenggara. Dia dikenal dengan nama kehormatan San Bao Gong (Sam Po Kong dalam dialek Fujian) atau San Bao Daren (Sam Po Tay Jin), dan sebutan lain dalam bahasa lokal. Kaisar bahkan memberi julukan “Ma San Bao” (Si Tiga Permata). Banyak klenteng didirikan di kawasan Asia Tenggara untuk menghormati dirinya sebagai tokoh pendiri dan pelindung kota-kota mereka.

Di dalam komunitas Cina (Tionghoa) dewasa ini, baik Muslim maupun non­-Muslim, Cheng Ho telah dijadikan tokoh mitologi. Cheng Ho tidak hanya dipuja dan dikagumi sebagai “Bahariawan Agung”, tetapi juga disembah sebagai dewa di berbagai klenteng dengan sebutan “Sam Po Kong”. Tentu ini merupakan pengagungan berlebihan yang tak semestinya terjadi.

Kisah pelayaran Cheng Ho tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya, tetapi juga mengilhami ratusan karya ilmiah, baik fiksi maupun nonfiksi, serta penemuan berbagai teknologi kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pasca penjelajahan sang maestro. Legenda “Sinbad Sang Pelaut” yang sangat popular di Timur Tengah juga diinspirasi oleh kisah legendaris Cheng Ho.