Siapakah Engkong Bian Seng?  Adakah orang tua Bian Seng juga penganut Islam yang taat?  Bukti tertulis tidak ada, hanya cerita dari mulut ke mulut, yang sampai sekarang dipegang anak cucu Bian Seng.  Satu dan lainnya tidak sama persis.

Salah satu keturunan Bian Seng yang kini masih hidup adalah R. Kafrawi, yang kini tinggal di kota Sumenep.  Lelaki yang lahir 8 Agustus 1922 in dan pernah ke Australia, diakui sebagai sesepuh keturunan Engkong Bian Seng.  “Kini pun, saya sering ziarah ke makam Bian Seng.  Kendati usianya sudah lanjut, namun fisiknya cukup sehat.

Menurut Kafrawi, Biang Seng adalah anak Putri Campa dengan Raja Sriwijaya, kala itu di bawah kekuasaan Majapahit.  Namun ia tidak menyebut siapa nama raja Sriwijaya itu.  Kisahnya bermula dari pernikahan Raja Majapahit.  Ketika hamil, Raja Majapahit memanggil ahli nujum untuk menebak sifat dan karakter janin dalam kandungan.  Jawaban yang diperoleh, katanya, anak yang bakal lahir bakal ‘bertentangan’ dengan ayahanda, karena jalan hidup yang dipilih tidak berbeda.  Karena ramalan ahli nujum itu, Raja menceraikan putrid Campa, lantas dihadiahkan pada raja Sriwijaya.

Menerima hadiah Maharajanya, raja Sriwijaya pun senang hati.  Konon, raja Sriwijaya ini telah memeluk Islam.  Putri Campa sendiri, di Sriwijaya merasa seperti di negerinya sendiri.  Ia mendengar adzan seperti di negerinya.

Ketika kandunganya lahir, Putri Campa mengingat-ingat ada sebuah surat dalam Al-Qur’an, antara lain Al-Falah dan Al-Fatihah.  Maka, anak yang dilahirkan pun diberi nama Raden Patah.  Dialah yang kemudian menjadi raja muslim di Demak.

Dari pernikahan ini, juga melahirkan empat anak lagi, yang salah satunya adalah Bian Seng.  “Jika ini benar, Bian Seng adalah saudara seibu Raden Patah,” ujar R. Kafrawi.

Kisah sampainya Bian Seng di Madura, diawali oleh serangan Mongol ke Sriwijaya.  “Waktu itu kerajaan Mongol ingin menguasai Sriwijaya.” Katanya.  Mendapat bahaya demikian raja Sriwijaya mengungsikan kelima anaknya ke luar daerah dengan naik perahu.  Dalam pelayaran ini, rombongan anak raja mendapat musibah.  Perahu diterjang badai sampai hancur.  Kelima anak itu ditolong oleh ikan hiu (mondung = Madura).  Satu orang satu ikan.  Bian Seng sampai di daratan Bintaro Sumenep.

Artikel terkait:

—- laksamana cheng ho

—-makam china muslim