Kampung Raden ini, konon merupakan cikal-bakal Cina peranakan di Madura.  Terdapat makam Engkong Biang Seng bersama isteri dan anak cucunya.  Sampai sekarang, kondisinya cukup terawatt.  Di batu nisan makan Bian Seng, ada prasasti berbahasa Arab yang menunjukan penanggalan dan hari wafat warga Cina itu.  Tulisan lengkapnya: Wafat kiay Biyanseng fis sanaid dali fis syahris shafari fi hilali ‘isruna fi yaumi jum’a sanah 1602 M. (Kiai Bian Seng wafat tahun Dal, bulan Shafar, tanggal 10 hari Jum’ah tahun 1602 M.).  Nisan ini mempertegas dugaan orang bahwa Engkong Bian Seng adalah pemeluk Islam yang taat.

Di sebelah utara makam, adalah komplek tempat tinggal anak cucu Bian Seng.  Komplek ini , dulu, adalah tempat tinggal Bian Seng.  Ada sekitar 10 rumah, yang satu agak terpisah.  Anak cucu Bian Seng yang masih tinggal di sini sekitar 30 orang.  Kebanyakan, orang tua dan anak-anak.  Yang muda, umumnya pergi ke luar daerah utuk mencari kerja atau keperluan studi.  Rahiqul Mahtum, 45, dan empat pemuda setempat misalnya, kini menjadu kru PO Pelita Mas Kepanjen Malang. Pemiliknya H. Amanuddin (alm.), yang sekarang diganti anaknya, H. Sukandar, juga masih keturunan Bian Seng.  Merka yang tetap tinggal di kompleks itu bekerja sebagai petani.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang Cina peranakan ini berbaur dengan penduduk Madura yang lain, tanpa diskriminasi sedikitpun.  Hampir tidak ada kesan, di kampung itu ada penduduk peranakan Cina.  Meskipun, di antara para peranakan itu kadang masih muncul panggilan-panggilan dengan istilah etnis Cina.

Saying, di kompleks tempat tinggal Bian Seng ini, banyak bangunan tua sudah mulai berubah.  Bentuk aslinya tidak bisa ditemui lagi.  Yang masih tertinggal antara lain, ranjang kuna.  Benda-benda kuna asal Cina, seperti guci dan keramik lain, tidak ditemui lagi.  Menurut warga, banyak dibawa ke tempat lain oleh anak cucunya.

Kekentalan pembauran orang peranakan itu juga diakui oleh

Zawawi Imran.  Kata karyawan Depag Sumenep yang juga penyair itu, “Pembauran mereka itu sangat bagus.” Mereka juga bisa menerima orang lain untuk menikah dengan keturunan mereka.  Zawawi yang mengaku juga keturunan mereka, kini lebih merasakan sebagai pribumi Madura.  “Salah satu bukti kekentalan pembauran itu adalah adanya masjid jami Sumenep yang diarsiteki oleh orang Cina.  Juga adanya bangunan tankeng, katanya Tankeng adalah bentuk bangunan tradisional Madura yang kini masih bisa dilihat di mana-mana.

Keramahtamahan dan sopan santun juga sangat dirasa di keluarga Cina peranakan ini.  Cara penghormatan mereka terhadap tamu, terasa lebih jawa dari orang Jawa.  Biasanya begitu kedatangan tamu, kaum ibu lantas sibuk di dapur menyiapkan apa yang terbaik buat tamunya.  Jika bertanya rumah seseorang, jika tidak terlalu jauh, bukan jawaban saja yang diberikan. Melainkan diantar sampai depan pintu rumah yang Anda tuju.  Ini bersumber dari Islam yang kental dengan ajaran penghormatan pada orang lain (tamu).

Artikel Terkait:

Laksamana Cheng Ho